Rembuk Stunting Kota Salatiga Tahun 2023

SALATIGA ─ Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPPEDA) Kota Salatiga menyelenggarakan acara Rembuk Stunting Tahun 2023 bertempat di Rumah Dinas Walikota Salatiga (14/06). Acara tersebut merupakan salah satu agenda rutin tahunan Pemerintah Kota Salatiga sebagai upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Kota Salatiga.

Acara Rembuk Stunting dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishak Palit,M.Si, Pj. Wali Kota Salatiga, Drs. Sinoeng Noegroho Rachmadi,MM, Sekretaris Daerah, Ir. Wuri Pujiastuti,MM, Ketua TP PKK Kota Salatiga, Ir. Denok Respati Ratih, Rektor UKSW Kota Salatiga, Prof. Dr. Intiyas Utami, S.E.,M.Si.,Ak.,CA., CMA.,QIA.,C.Fra. unsur OPD, unsur wilayah (Kecamatan dan Kelurahan), Akademisi dan Praktisi serta stakeholder terkait.

Acara Rembuk Stunting dibuka dengan pengarahan dari Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishak Palit, M.Si, dalam pengarahan tersebut terdapat 3 (tiga) poin inti yaitu : (1) Diperlukannya role model untuk pendampingan balita stunting secara terus menerus untuk memastikan hasil; (2) Pemberian makanan dengan kandungan gizi yang tepat menjadi hal yang penting dalam upaya penurunan stunting; (3) Perlu menjalin kerja sama dengan lembaga lain / Perguruan Tinggi untuk melakukan penelitian guna melakukan percepatan penurunan stunting di Kota Salatiga.

Dalam acara rembuk stunting ini Kepala Bappeda Kota Salatiga, Agung Hendratmiko, ST.,MT.,M.Si, menyampaikan data prevalensi stunting tahun 2020 sampai 2022, baik berdasarkan SSGI, operasi timbang, maupun aplikasi EPPGBM. Disampaikan juga cakupan layanan indikator stunting yang capaiannya masih dibawah 25 %. Selain itu disampaikan juga informasi jumlah anggaran untuk kegiatan penurunan stunting di Kota Salatiga tahun 2023 dan rencana anggaran untuk tahun 2024. Termasuk di dalamnya informasi tentang besaran Dana Kelurahan yang dialokasikan untuk penurunan stunting.

Selanjutnya, sharing praktik baik percepatan penurunan stunting disampaikan oleh Lurah Randuacir, dengan beberapa poin penting yang perlu menjadi catatan, antara lain : Perlu kepedulian dan komitmen dari masyarakat sebagai orang tua dalam upaya pencegahan stunting;

  1. Peran TPPS perlu lebih dioptimalkan dalam upaya penurunan stunting;
  2. Untuk menangani kasus balita stunting, perlu memperhatikan penyebabnya. Karena penanganan yang harus dilakukan akan berbeda kalau penyebabnya berbeda. Misalkan karena pola asuh, penyakit penyerta atau karena sebab lain.
  3. Kecamatan Argomulyo berkolaborasi dengan pentahelix untuk menurunkan stunting di Kecamatan Argomulyo, yaitu :
  4. Akademisi, bekerjasama dengan mahasiswa UKSW memberikan edukasi kepada masyarakat terkait stunting;
  5. Sektor swasta, Kerjasama dg para pelaku usaha di wilayah untuk turut serta aktif dlm TPPS (Inovasi: Randuacir menggandeng pengusaha Briket & KSU Ngudi Luhur dlm TPPS Kelurahan);
  6. Komunitas, dengan inovasi yang dilakukan di wilayah Kecamatan Argomulyo, yaitu penggalangan dana Infak ASN Kec.Argomulyo untuk anak stunting, Baksos Mandiri KSI Randuacir untuk bumil resti dan  anak stunting serta Sedekah Susu Kelompok Tani Randuacir untuk Posyandu;
  7. Pemerintah, dengan Inovasi: Pandu Si Ranting (Program terpadu Atasi Resiko Stunting PKM Cebongan), BAWANG KATING (Bersama Berjuang     Kawal Stunting – PKM Tegalrejo), Edukasi stunting pada bimbingan pra nikah oleh KUA Argomulyo, dan Pengawalan Polsek Argomulyo dlm distribusi bantuan stunting;

Media, Kampanye pencegahan stunting melalui media sosial yg dimiliki Kec.Argomulyo.

Selain itu, Peran Mahasiswa Peduli Stunting (Mahasiswa Penting), disampaikan oleh Cintana Amara Sadmoko, Mahasiswa FISKOM UKSW Salatiga. Beberapa point yang menjadi catatan adalah :

  1. Permasalahan Stunting harus segera diatasi karena hal ini juga berkaitan dengan adanya bonus demografi. Salah satu cara untuk menangani permasalahan stunting adalah kolaborasi pentahelix dimana memetakan masalah dan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait;
  2. Perlu adanya sinergitas dari perguruan tinggi melalui program mahasiswa penting dengan melakukan pendampingan – pendampingan secara langsung maupun berkolaborasi dengan Tim Pendamping Keluarga (TPK);
  3. UKSW telah melakukan beberapa kegiatan sebagai wujud partisipasi aktif mahasiswa maupun kampus dalam upaya percepatan penurunan stunting, di antaranya melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan melakukan sosialisasi pembuatan kudapan anti stunting, implementasi Mahasiswa Penting melalu PLT (Pembelajaran Lapangan Terpadu) serta melalui praktek mata kuliah advokasi di kelurahan.

Sebagai penutup Pj. Wali Kota Salatiga, Drs.Sinoeng Noegroho Rachmadi, MM, memberikan pengarahan dengan poin-poin penting antara lain :

  1. Jangan terjebak dengan persentase prevalensi stunting yang rendah karena dimungkinkan angka pembaginya yang besar.
  2. Perlu dibuat surat edaran ke OPD untuk menjadi Bapak Asuh Anak Stunting di masing-masing kelurahan dampingan Super Tangguh.
  3. OPD harus memperhatikan penanganan stunting di kelurahan dampingan Super Tangguh dan menjadi salah satu bahan evaluasi terhadap keberhasilan pelaksanaan Super Tangguh.
  4. Perlu dilakukan revalidasi data stunting sehingga intervensi yang dilakukan bisa tepat waktu dan tepat sasaran.

Selain dari para narasumber diatas, Komandan Kodim 0714 menyampaikan materi tentang Penanganan Stunting dengan Metode ANTING SI GANA (Atasi Anak Stunting Dengan Konsumsi Algae Spirulina) sebagai praktik baik penanganan stunting yang telah dilaksanakan di Kabupaten Sukoharjo.

Dalam acara Rembuk Stunting ini juga dilaksanakan penandatanganan Berita Acara Rembuk Stunting Kota Salatiga oleh Pj. Wali Kota Salatiga, Ketua DRPD, Ketua TP PKK Kota Salatiga, dan Rektor UKSW Kota Salatiga sebagai wujud adanya komitmen bersama antara eksekutif, legislative, dan mitra eksternal Pemerintah Kota Salatiga untuk berkolaborasi melakukan upaya percepatan penurunan stunting di Kota Salatiga.

Link Materi Rembuk Stunting Kota Salatiga Tahun 2023 :